BLANTERSWIFTBEGANBENEFITSBLOG101
"Sang Bendera yang Penomenal"

"Sang Bendera yang Penomenal"

Jumat, 26 Oktober 2018

Candra Saidina
Akademisi Sarolangun

Pagi ini mendadak mendapatkan pertanyaan dari teman-teman saya tentang persoalan pembakaran kalimat tauhid yang dilakukan oleh Banser di tanah jawa. Kenapa ini tidak didiskusikan atau saya bahas di medsos?

Saya sampaikan kepada mereka, pertama saya alergi bila berdiskusi dengan orang-orang yang buta akan konstelasi apalagi krisis dalam pemahaman agama. Atau menghadapi orang-orang yang gagal paham sehingga informasi-informasi yang mereka dapatkan lewat media sosial lalu kemudian ditelan mentah-mentah.

Kedua, saya tak mau berdebat dengan orang-orang yang hatinya tak baik, pembenci, sentimentil protektif, kepentingan politik terselubung, yang tidak ada maksud baik untuk orientasi pembenaran dalam pemahaman.

Kasus pembakaran ini penting kiranya kita pahami maksud, sebab, akibat dan tujuannya terlebih dulu. Kita tidak boleh langsung menjustis, menvonis, agar tidak terjadi kesalah pamahan dari berbagai sisi.

Dalam tinjauan Fiqh boleh membakar ayat-ayat Al-Qur'an dalam rangka takut terkena najis atau terbuang sembarangan. Boleh membakar (Al-Qur'an) jika tidak ada penistaan didalamnya. Tidak hanya boleh membakar, tapi juga boleh menguburkannya didalam tanah dengan alasan yang disebut di atas.

Menurut Maliki dan Syafi'i boleh membakar dan menurut Hanafi serta Hambali boleh menguburkannya kedalam tanah. Ulama yang sependapat begitu banyak antara lain Izzudin Ibn Abdul Salam, Al-Bahuti, As-Suyuti, Ibnu Utsaimin dan sebagainya.

Kitab-kitab terdahulu karangan para ulama-ulama besar seperti Ad-Durr Al-Mukhtar, Kasyf Al-Qanna’, Al-Itqan fi Ulumul Qur’an, Asna Al-Mathalib, Fatawa Nur 'Ala Ad-Darbi dan banyak kitab yang ditulis membolehkan mengubur dan membakar ayat-ayat Al-Qur'an.

Salah satu saksi sejarah Mus'ab Bin Sa'ad pada masa khalifah Utsman Bin Affan pernah memerintahkan para sahabat untuk membakar Al-Qur'an disentro negeri arab dan sekitarnya. Di karenakan pada saat itu ada mushaf-mushaf Al-Qur'an yang mengalami perbedaan antara satu sama lain. Untuk menjaga kemurnian dan keaslian serta memuliakan Al-Qur'an maka Khalifah Utsman memerintahkan para sahabat untuk membakarnya.

Dalam pikiran akal sehat saya, Banser yang membakar itu adalah orang Islam sesuai dengan organisasinya. Saya yakin dia juga bersyahadat, berpegang pada kalimat tauhid yang dia bakar sama dengan kita. Dan ada tujuan untuk membakarnya, karena tidak mungkin seseorang melakukan sesuatu tanpa ada niat.

Bendera yang dibakar oleh Banser itu mirip dengan bendera HTI, suatu organisasi yang ditolak di negara-negara maju, bahkan ditolak di negara-negara Islam itu sendiri. Bendera ini juga mirip dengan ISIS, Al-Qaeda, bendera yang menciptakan propaganda besar berpuluh-puluhan tahun lamanya. Mempunyai jaringan terosisme yang luar biasa mengatasnamakan islam, menebarkan ketakutan, penyiksaan dan penjajahan yang kejam.

Jadi yang dibakarnya bendera bukan kalimat Tauhidnya. Bola yang ada di Saudi arabia terpampang jelas kalimat tauhidnya, jadi yang ditendang bolanya bukan kalimat tauhidnya. Atau kita shalat di atas sajadah yang hampir seluruh kita temukan berukiran mesjid, bulan dan bintang, jadi kita bukan menginjak mesjid, bulan, bintang yang sebagai keagungan agama islam itu, tapi menginjak sajadahnya. Atau kita menemukan baju yang ada kalimat tauhidnya, yang dicuci, dikucek-kucek, diremas-remas bahkan dipukul-pukul itu bajunya, bukan kalimat tauhidnya.

Kalau tidak percaya bahwa bendera itu dilarang berkibar padahal ada kalimat tauhidnya, bila pergi haji atau umroh coba kibarkan bendera itu di Makkah, atau datang ke timur tengah, afrika tengah, asia tengah, Inshaallah tidak akan pulang kembali lagi ke Indonesia. Arab, timur tengah dan negara lainnya bukan marah, benci atau anti pada kalimat tauhidnya, tapi pada benderanya. Serta marah dan benci pada orang-orang maupun kelompok-kelompok yang berlindung dibalik bendera tersebut.

...

Di zaman ini kita harus filteratif, jangan mudah percaya dan terlalu reaktif tanpa mencari informasi yang jelas dan dari berbagai pihak serta sumber. Pahami sejarah, kitab-kitab klasik dan ulama-ulama terdahulu.

Saya juga tidak Ansor apalagi Banser, saya juga belum mendalami organisasi ini. Tapi setidaknya jangan mencak-mencak, naik darah, menghunus pedang, parang, dalil ini dalil itu yang dibaca agar meyakinkan orang lain atau sebaliknya. Cari dulu akar masalahnya, sebab-akibatnya. Bawa kepada hati yang dingin, sebagaimana Rasulullah membawa agama ini dengan penuh santun dan kelembutan.

Ooooh god, jagalah hati dan bumi kami ini.

Sarolangun, 24 Oktober 2018
By: Arsanur Rahman Saidina Ali

editor : Akmal