BLANTERSWIFTBEGANBENEFITSBLOG101
EVOLUSI KOPI DARI GELOMBANG “FIRST, SECOND, DAN THIRD”

EVOLUSI KOPI DARI GELOMBANG “FIRST, SECOND, DAN THIRD”

Selasa, 11 September 2018

tebopedia.com-Kopi menjelma menjadi sesuatu yang diagung-agungkan, dicintai, dan dihormati oleh mereka yang menggilai kopi atau malahan bagi mereka yang berkecimpung di dunia kopi . Kopi bukanlah lagi menjadi minuman yang hanya sebagai pengantar kafein tapi kopi menjadi sesuatu yang lebih kompleks. Tapi mungkin sebagian dari mereka peminum kopi banyak yang tidak menyadari atau bahkan tidak tahu kalau perkembangan kopi saat ini telah memasuki fase third wave. Kopi telah mengalami evolusi yang signifikan dari tahun ketahun. Lalu bagaimana perjalanan kopi hingga sampai pada tahap ketiga? Baiklah akan saya jabarkan berikut ini.
1. First Wave Coffee 

Fase ini dimulai sebelum tahun 1960 oleh beberapa merk kopi terkenal seperti Nestle, Maxwel, dan Folgers di Amerika Serikat. Di era ini lebih dikenal dengan kopi instan karena pada fase ini industri kopi lebih mengedapankan kepraktisan penyajian, harga murah dan inovasi pada kemasan. Tidak heran pada fase ini seringkali mendapati kopi yang berkualitas buruk karena industri hanya mementingkan penjualan yang sebesar-besarnya dari pada kualitas kopi itu sendiri.
2. Second Wave Coffee 

Kritikan para peminum kopi di era first wave karena kopi yang buruk akhirnya melahirkan “Kopi Gelombang Kedua”. Pada fase ini para penikmat kopi bukan saja menginginkan kopi yang nikmat tapi juga asal-usul kopi yang mereka minum. Banyak sekali Coffee Shop mulai bermunculan dan menjamuri kota-kota besar pada saat itu. Terjadi peralihan yang mana pada  gelombang pertama para penikmat kopi menikmati kopi hanya di rumah atau di kantor tapi sekarang lebih ke kedai kopi dan cafe. Mendadak kopi menjelma menjadi gaya hidup dan dikaitkan dengan cara bermasyarakat untuk bersosialisasi pada saat itu. Di era ini ditandai lahirnya sebuah brand besar yang bakal menjalar keseluruh dunia, yaitu Starbucks.

3. Third Wave Coffee

Lahirnya “kopi Gelombang Ketiga” diperkirakan akhir tahun 1990-an. Sama seperti gelombang sebelumnya selalu saja ada pola pergolakan. Di gelombang ini ditandai dengan tertariknya para penikmat kopi mengetahui asal-usul bagaimana secangkir kopi nikmat dapat diciptakan. Baik asal muasal bijinya, proses penyajian sampai ke sebuah tegukan nikmat.

Di era ini para penikmat kopi lebih kritis dengan informasi yang menyangkut soal kopi. Tidak hanya para penikmat kopi saja, Barista dan Roaster pun semakin terobsesi di fase ini. Pada gelombang ketiga Barista semakin terobsesi menemukan biji kopi terbaik di dunia dan menyempurnakan teknik seduh untuk mengeluarkan karakter kopi secara maksimal. Di gelombang inilah lahir istilah seperti single origin dan micro-lot. Pada gelombang ketiga bukan hanya Barista dan Roaster saja yang diperkenalkan sebagai artisan tapi juga para petani kopi. Di era ini terjalin hubungan yang saling terikat antar profesi kopi. Seperti seorang Roaster yang mulai memfokuskan menggunakan biji kopi dari perkebunan kecil dari suatu daerah yang dimiliki oleh individu petani sampai perkebunan individu di area yang lebih spesifik lagi yang disebut dengan micro-lot.

Di era third wave coffee semua informasi tentang kopi pun menjadi sangat terbuka untuk orang-orang yang menginginkan sebuah informasi lebih dalam mengenai kopi. Seperti bagaimana kopi ditanam, varieatas apa yang digunakan, menggunakan metode paska panen yang bagaimana dan masih banyak lagi. Dan juga seorang Barista di tuntut untuk mengetahui asal muasal biji kopi yang digunakan, level roastingnya, sampai karakter rasa dan aroma yang dkeluarkan dari biji kopi tersebut. Tujuannya tak lain sebagai edukasi untuk para penikmat kopi dan menempatkan secangkir kopi itu sendiri sebagai objek perhatian. 

Lalu apakah kopi hanya berevolusi sampai tahap ketiga saja? Tidak juga. Gaung gelombang keempat sebenarnya sudah santer terdengar tapi orang-orang masih mencari hal-hal apa saja yang menandai kemunculan gelombang keempat. Apapun kopi yang kita nikmati, mereka adalah hasil inovasi dari para peminum kopi sebelum-sebelumnya. Atau, dalam kata-kata Bradford Lowry: “Tanpa inovasi-inovasi dari gelombang pertama, kita tidak akan menikmati kopi seperti sekarang ini.” Intinya di gelombang manakah yang kita anut, tidak ada cara minum kopi yang benar dan salah semua kembali tentang selera.

(Disadur dari craftbeveragejobs.com, dripsanddraughts.com,
sprudge.com, the guardian.com,
& buku ‘Coffee Nerd: How to Have Your Coffee and Drink It Too’
oleh Ruth Brown.

writer : Ricky