BLANTERSWIFTBEGANBENEFITSBLOG101
Tiga Panglima Melakukan Perlawanan Penjajahan di Sungai Keruh

Tiga Panglima Melakukan Perlawanan Penjajahan di Sungai Keruh

Rabu, 22 Agustus 2018


tebopedia.com- Sebagai Ibu Kota Marga Petajin Ulu, dari dahulu Sungai Keruh desa di Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten Tebo memang dikenal dengan type desa pertanian sawah, karena pada tahun 1989 sebagian besar penduduknya bermata pencaharian pokok disektor pertanian sawah atau 36,87 persen dari jumlah penduduknya.

Selain itu, seperti yang dilakukan penduduk Desa Sungai Keruh pada saat ini, dimana dahulu penduduk setempat juga bertani karet, kopi dan kelapa serta disusul penduduk yang bergerak dalam mata pencaharian jasa dan perdagangan.

Namun meskipun demikian, sudah sejak awal bahwa penduduk Desa Sungai Keruh dikenal sebagai petani sawah, walaupun belakangan justru terlihat puluhan hektar sawah yang terletak dibagian wilayah Dusun Gajah Mati jarang dan kurang tersentuh oleh pekerjaan tangan para petani sawah. Hal tersebut terjadi dikarenakan banyaknya penduduk yang memilih mata pencaharian lainnya.

Adapaun status Desa Sungai Keruh ini juga pernah ditetapkan dalam pembagian wilayah administrasi dalam penindak lanjutan surat keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi Nomor 501 tahun 1988 pada tanggal 12 Desember 1988 yang berisikan tentang penyatuan dan penghapusan desa dalam propinsi tingkat I jambi.

Dimana dalam hal itu dikatakan telah disatukan antara Desa Simpang Sungai Keruh dengan Desa Sungai Keruh yang ditetapkan dengan sebutan nama Desa Sungai Keruh yang pusat penyelenggaraannya oleh pemerintah Desa Sungai Keruh. 

Dalam penyatuan tersebut juga dibarengi dengan penyusunan organisasi pemerintahan, kepala urusan pembangunan dan kepala urusan umum, yang mana saat itu dibantu oleh empat kepala dusun dan terdiri dari enam RT.

Namun dibalik perkembangan yang secara tahap bertahap dilakukan penduduk dan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk Desa Sungai Keruh ini, banya hal yang tidak bisa dilupakan. Dimana dahulunya hidup beberapa tokoh yang rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan tanah kelahiran mereka ini.

Dimana mulanya sebagai Ibu Kota Marga Petajin Ulu, Desa Sungai Keruh pada masa waktu penjajahan Belanda. Masyarakat biasa maupun tokoh-tokoh desa tidak tinggal diam, mereka terus melakukan perlawanan untuk mengusir prajurit Belanda. Dimana perlawanan tersebut di koordinir oleh tiga panglima ternama.

Tidak asing lagi dikuping penduduk Desa Sungai Keruh, bahkan salah satu nama panglima tersebut saat ini melekat pada nama lapangan sepak bola Palimo Usuh Desa Sungai Keruh. Dimana ketiga nama tokoh perlawanan penjajahan tersebut yaitu adalah Panglimo Usuh, Panglimo Bontak, dan Panglimo Syawal.

Dikatakan Mustafa Kamal orangtua dan pemuka Adat setempat berapa tahun yang lalu, karena ketiga panglimo tersebut melakukan perlawanan kepada Pemerintah Belanda. Maka oleh Belanda dengan politik penjajahannya Panglimo Usuh, dan Panglimo Bontak berhasil ditangkap dengan tipu daya. Kemudian kedua panglimo tersebut dibuang ke daerah Cilacap Jawa Tengah.

Sedangkan Panglimo Syawal terus melakukan perlawanan walaupun kedua temannya telah ditangkap dan dibuang. Namun dengan gagah perkasa tanpa patah arang serta merta semangat juang yang membara akhirnya Panglimo Syawal gugur sebagai kusuma bangsa.

“Setelah itu diceritakan turun temurun bahwa kedua panglimo yang ditangkap dan dibuang ke Cilacap Jawa Tengah tidak lagi terdengar kabarnya, dan Panglimo Syawal meskipun tanpa kedua temannya tetap melawan dan akhirnya gugur,”ucap Mustafa Kamal menceritakan.

Peristiwa yang terjadi disekitar tahun 1916 inipun kini terus diceritakan warga kepada generasinya, bahkan tercantum dalam sebuah makalah Kepala Desa Sungai Keruh Kecamatan Tebo Tengah KAbupaten Daerah Tingkat II Bungo Tebo dengan judul Dinamika Pembangunan Masyarakat Desa Sungai Keruh.

writer : Ade