BLANTERSWIFTBEGANBENEFITSBLOG101
Protes Adzan Berujung Penjara, Kemenag Terbitkan SE Pengeras Suara Masjid

Protes Adzan Berujung Penjara, Kemenag Terbitkan SE Pengeras Suara Masjid

Minggu, 26 Agustus 2018


tebopedia.com - Sebagaimana dimuat sejumlah media lokal Sumatera Utara maupun nasional beberapa hari yang lalu bahwa kasus protes adzan yang berlarut sekitar dua tahun lalu di Tanjung Balai Medan berujung vonis hukuman penjara.

Dikabarkan sejumlah media lokal maupun nasional pula bahwa pada Selasa (21/08/2028) Meliana warga Tanjung Balai Medan Sumatera Utara ini dijatuhkan vonis oleh Pengadilan Negeri Medan satu tahun enam bulan penjara atas kasus penistaan agama.

Pantauan media ini, hakim menilai Meliana terbukti memprotes volume suara azan yang berkumandang disekitar tempat tinggalnya yang berasal dari Masjid Al Maksun pada Senin (29/07/2026), dan atas perbuatannya itu Meliana ditetapkan melanggar Pasal 156 a KUHP.

Seiring dengan hal ini pula, Kementrian Agama Republik Indonesia pada tanggal 24 Agustus lalu menerbitkan surat edaran Dirjen Bimas Islam nomor B.3940/DJ.III/HK.00.07/08/2018 tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid.

Dikutip dari portal website Kementrian Agama Republik Indonesia kemenag.go.id, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin menjelaskan,  aturan tentang tuntunan penggunaan pengeras suara di masjid, langgar, dan mushalla sudah ada sejak 1978. Aturan itu tertuang dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978.

"Hingga saat ini, belum ada perubahan," kata Muhammadiyah Amin di Jakarta,  Jumat (24/08).

Menurutnya,  Instruksi Dirjen Bimas Islam ini antara lain menjelaskan tentang keuntungan dan kerugian penggunaan pengeras suara di masjid, langgar, dan mushalla. Salah satu keuntungannya adalah sasaran penyampaian dakwah dapat lebih luas.

Namun, penggunaan pengeras suara juga bisa mengganggu orang yang sedang beristirahat atau penyelenggaraan upacara keagamaan. "Untuk itu, diperlukan aturan dan itu sudah terbit sejak 1978 lalu," tegasnya.

Dalam instruksi tersebut, lanjut mantan Rektor IAIN Gorontalo ini, dipaparkan bahwa pada dasarnya suara yang disalurkan keluar masjid hanyalah adzan sebagai tanda telah tiba waktu salat.

"Pada dasarnya suara yang disalurkan keluar masjid hanyalah adzan sebagai tanda telah tiba waktu salat. Demikian juga sholat dan doa pada dasarnya hanya untuk kepentingan jemaah ke dalam dan tidak perlu ditujukan keluar untuk tidak melanggar ketentuan syariah yang melarang bersuara keras dalam salat dan doa. Sedangkan dzikir pada dasarnya adalah ibadah individu langsung dengan Allah SWT karena itu tidak perlu menggunakan pengeras suara baik kedalam atau keluar,"demikian Amin membacakan salinan instruksi.

Hal lain yang diatur dalam instruksi ini terkait waktu penggunaan pengeras suara. Amin mengatakan, instruksi Dirjen secara jelas dan rinci sudah mengatur waktu-waktu penggunaan pengeras suara.

"Misalnya, pengeras suara bisa digunakan paling awal 15 menit sebelum waktu Salat Subuh, dan sebagainya," jelas Muhammadiyah Amin.

Melaui surat edaran yang diterbitkan hari ini,  Muhammadiyah Amin meminta Kanwil Kemenag untuk kembali mensosialisasikan instruksi Dirjen Bimas Islam 1978. "Kami meminta segenap jajaran, dapat mensosialisasikan kembali aturan tersebut," katanya.

"Kami juga minta Kantor Urusan Agama (KUA) maupun penyuluh agama di seluruh Indonesia untuk ikut mensosialisasikannya," jelas Amin.

Hal itu misalnya dilakukan dengan menggandakan instruksi Dirjen tentang penggunaan pengeras suara pada masjid, langgar, dan mushalla  lalu membagikannya kepada masyarakat sambil dijelaskan substansinya. Instruksi tersebut juga agar dijadikan sebagai bahan pembinaan keagamaan yang dilakukan kepada masyarakat.

Dengan disosialisasikan kembali aturan penggunaan pengeras suara, Muhammadiyah Amin berharap masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sama tentang aturan tersebut.

the posters : Ade