BLANTERSWIFTBEGANBENEFITSBLOG101
Menyingkap Tabir Sejarah Nama Tuo Sumay, 4 Sungai Hingga Legenda 3 Moyang

Menyingkap Tabir Sejarah Nama Tuo Sumay, 4 Sungai Hingga Legenda 3 Moyang

Selasa, 28 Agustus 2018



tebopedia.com - Sebagaimana kita ketahui bahwa Desa Dusun Tuo Sumay bersebelahan dengan Desa Teriti yang sama-sama berada di Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo dengan jumlah penduduk yang cukup banyak.

Dengan lokasinya yang berada diantara sungai, untuk sampai ke Desa Dusun Tuo Sumay ini harus menyeberangi sungai Batanghari, bahkan salah satu wilayah dusun dari desa ini benar-benar berada diantara dua sungai.

Jika dilihat dari namanya, Dusun Tuo sangat seimbang dengan suasana desa yang masih beraura tradisional, dimana pemukiman warga banyak dijumpai dalam bentuk rumah panggung, bahkan sebagian jalan desapun tampak masih tanah, ditambah lagi dengan penemuan situs sejarah membuat kental sarat makna nama tersebut.

Menyingkap tirai sejarah desa Tuo Sumay, penulis beberapa tahun silam menemui beberapa petua-petua desa. Adapun saat itu yang menjadi nara sumber ialah M Yatin pria kelahiran 1943 di Dusun Tuo Sumay. Dia ialah merupakan tokoh adat yang disegani masyarakat dan dianggap tahu banyak hal tentang desa ini.

Sayo dapatkan cerito dari almarhum datuk Imam Fudin, beliau lahir di tanah dusun ko sekitar tahun 1890an,” Yatin memulai menceritakan kisah legenda desa yang telah dihuninya bertahun-tahun itu kepada kami pada 2011 silam.

Dikisahkannya, asal mula desa ini disebut sebagai desa Tuo Sumay dimulai dari keberadaan empat sungai yang mengelilingi desa ini. Yaitu Sungai Blangkai di sebelah hulu desa, Sungai Silurah sebelah hilir, Sungai Cendio sebelah darat, dan Sungai Sibabaju sebelah laut.

“Nah disungai Sibabaju kolah dulu mulonyo ado tigo bedulur nan hidup layaknyo kito,”tuturnya.

Tempat yang terdapat disungai Babaju tersebut dikatakan warga sebagai ‘Talang Datuk’. Ditempat ini orang dulu kerap mencari Gading Gajah, dan ketiga lelaki yang dikenal sebagai moyang didaerah ini bernama Batu Kilir, yang dimasa hidupnya dikenal sebagai seorang saudagar, kemudian Nuh, sebagai Pedagang, serta Tenggalang si tukang tambang.

Sebagai bukti dari legenda tiga tokoh tersebut, saat ini masih dapat dijumpai salah satu makamnya, yaitu makam Batu Kilir. Menurut keyakinan warga, hingga kini batu nisannya masih ada dan terus berpindah-pindah dengan sendirinya.

Tuahnyo Batu nisan Batu Kilir tukalu nisannyo tesebut diundo-undo (dibawa, red) kemano-mano pastinyo bebalik pulak,” kata Yatin.

Lalu bagaimana kaitan empat sungai tersebut dengan asal mula nama desa ini? Dilanjutkan Yatin, bahwa kata nenek mamak yang terdahulu, desa ini dikatakan sebagai Dusun Tuo karena keberadaan empat sungai tersebut membuat hamparan daratan sepanjang desa menjadi mengapung. Sehingga semakin dalam air sungai semakin tinggi pula desa tersebut mengapung.

“Desa ko kalu banjir besar, atau jugo aek dalam dak pernah nianlah tenggelam, seolah-olah mengapung,” ujarnya. Karena perihal tersebutlah pemukiman ini secara turun temurun disebut sebagai Dusun Tuo, dan kini secaro keseluruhan dikatakan pulal ah sebagai Desa Tuo Sumay.

Namun sayangnya disini yatin tidak bisa mengingat kapan tahun dari kisah tersebut. Sementara itu, diyakini bahwa jika musim banjir atau ‘aek dalam’ maka diduga desa ini mengapung.

Dengan  berdiri ditepi Dusun Tuo yang tepatnya disebelah candi gedong jika melihat kearah desa Teluk Singkawang maka akan terlihat puncak Masjid Desa Teluk Singkawang tersebut.

"Kalu hari biaso macam ko dak bakal nampak, tunggu be aek dalam, pasti teliat puncak masjid diseberang sano tu,” ujar beberapa warga saat itu.

Demikianlah sejarah singkat Desa Tuo Sumay ini, dimana diyakini oleh para tetua desa, nama desa ini diberikan dengan mengingat bahwa keberadaan Tuo Sumay jauh lebih tua ketimbang keberadaan pemukiman didesa sekitarnya saat ini.

writer : Ade